Moeldoko: Jangan Politisasi Masjid

0
134

Kepala staf kepresidenan RI Jenderal (Purn.) TNI Moeldoko membuka dan sekaligus menjadi keynote speaker seminar nasional Pancasila pada generasi milenial yang diselenggarakan DPW LDII Provinsi Jawa Timur di Aula Ponpes Sabilurrosyidin, Surabaya, Sabtu (21/4).

Dalam kesempatan itu ia memaparkan tempat-tempat ibadah seperti mushala, masjid, pesantren memiliki kontribusi yang sangat kuat didalam membangun karakter anak-anak bangsa Indonesia. “Ini penting, untuk itulah saya selalu berteriak kencang, jangan gunakan masjid untuk kepentingan lain terkecuali untuk kepentingan yang berbau Islam bukan untuk politik,” tegas Moeldoko.

Moeldoko menegaskan Pancasila memiliki nilai filosofis luhur yang mengandung nilai kultural, religius, dan nilai-nilai positif yang lainnya. Untuk itu kelima Sila tidak ada yang cacat. Selain itu Pancasila dan UUD 1945 menjadi sumber dari segala sumber hukum sekaligus menjadi rujukan bagi bangsa Indonesia.

“Pancasila adalah sebagai ideologi yang terbuka yang dinamis bukan ideologi yang mati. Jika ada penyimpangan itu yang melakukan adalah aktornya bukan Pancasilanya yang salah,” ungkap Moeldoko. Oleh karena itu pembudayaan pancasila pada era generasi milenial sangat penting untuk membentengi ideologi-ideologi yang lain yang saat ini menjadi tantangan bangsa Indonesia semua.

“Saya pikir dunia saat ini sedang menghadapi situasi yang begitu cepat perubahannya, penuh dengan jebakan dan risiko. Kompleksitasnya luar biasa dan sering mengejutkan. Lingkungan ini perlu disikapi dengan baik oleh anak muda. Bagaimana menyiapkan diri dengan baik. Tidak cukup dengan kemampuan, skill dan keahliannya. Tapi pembangunan karakter juga disiapkan,” tegas Moeldoko kepada wartawan, Sabtu (21/4/2018).

Menurut mantan Panglima TNI ini, melalui ‘Seminar Nasional Pancasila: Pembudayaan Pancasila pada Era Generasi Milenial’, pembangunan karakter anak muda bisa disampaikan. “Saya punya keyakinan penuh, anak yang tinggal di lingkungan asrama, masjid dan pesantren, mereka telah mendapatkan character building dari para seniornya dan guru ngajinya. Masjid dan pesantren memiliki nilai sangat strategis membangun karakter bangsa. Masjid jangan digunakan untuk kepentingan-kepentingan lain, apalagi untuk kepentingan politik. Ini tidak sehat dan tidak bagus ke depannya,” tegasnya.

Moeldoko kecil hidupnya juga sering menimba ilmu di langgar (surau).”Oleh karena itu, saya juga senang mengikuti acara yang berhubungan dengan pondok pesantren. Masjid, langgar, surau, pesantren adalah pondasi yang kuat untuk membangun karakter yang kuat. Pancasila adalah perbuatan. Contohnya, tidak banyak bicara, tapi lakukan kerja nyata yang banyak. Sebaik-baiknya manusia adalah yang memiliki value yang positif. Saya harap LDII memiliki value yang positif dan berpengaruh positif pada lingkungan di manapun berada,” jelasnya.

Sementara itu Ketua DPW LDII Jawa Timur, Amien Adhy berpandangan keakraban generasi milenial dengan dunia internet dan sosial media, memiliki dua dampak yang harus diantisipasi. Dampak positif berupa penyebaran informasi yang bermanfaat, namun di sisi lain menyebarkan gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan budaya bangsa. Hal ini merupakan konsekuensi kemampuan internet yang menjadikan generasi milenial sebagai warga dunia tanpa batasan ideologi dan teritorial.

“Tanpa bimbingan, mereka bisa memaknai budaya barat merupakan sesuatu modern, lalu muncul anggapan nilai-nilai bangsa menjadi sesuatu yang konservatif atau kuno. Ini yang harus diperhatikan semua pihak,” tukasnya.

Penyerapan budaya asing yang tak sesuai nilai-nilai bangsa menjauhkan generasi milenial dari nilai-nilai Pancasila yang selama 73 tahun menjadi perekat bangsa. “Para pendiri bangsa ini membuat Pancasila yang digali dari nilai-nilai luhur bangsa dari Sabang hingga Merauke, inilah yang menjadi perekat bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Seminar nasional ini merupakan upaya mencari berbagai masukan untuk persiapan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) DPP LDII yang akan berlangsung pada Oktober 2018 nanti. LDII sejak 1972 telah menjadikan Pancasila sebagai azas organisasi, untuk itu LDII berkepentingan menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi mendatang.

Perhelatan ini menghadirkan Kepala Staf Presiden Jenderal (Pur) TNI Moeldoko sebagai keynote speaker, sementara pembicara lainnya adalah Dr. Chaider S Bamualim, MA dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dengan materi “Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka”, Prof. Akhmad Muzakki, Ph.D Dekan FISIP UINSA dengan materi “Tantangan Pembudayaan Pancasila di Era Generasi Milenial”, Dr. Rahma Sugiharti, M.Si Dosen FISIP UNAIR dengan materi “Dilema Pembudayaan Pancasila dan Nasionalisme Pada Generasi Milenial”, dan Prof. Dr. Singgih Tri Sulistyono, Guru Besar Ilmu Sejarah UNDIP/Dewan Pakar DPP LDII dengan materi “Relevansi Mengenal Sejarah Lahirnya Pancasila Bagi Generasi Milenial”. Sementara dari Kementerian Dalam Negeri hadir pula Sekretaris Ditjen Polpum Kemendagri Didi Sudiyana, SE, MM.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.