Tim ECH DPP Siap Asistensi Sekolah Mitra LDII

0
344

Jakarta. “Tim Education Clearing House DPP LDII siap lakukan asistensi atau pendampingan kepada sekolah-sekolah mitra LDII”, demikian dikatakan Dr. Basseng dalam pemberiaan arahan materi bahasan diskusi pada Focus Group Discussion tentang Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Profesional Religius pada Pondok Pesantren yang Terpadu dan Terintegrasi, yang diselenggarakan DPP LDII di Jakarta, pada Rabu (27/03).

Menurut pria yang juga salah satu Ketua DPP LDII ini asistensi yang dapat diberikan oleh Tim ECH antara lain konsultasi pendirian sekolah, penyusunan dan pengembangan kurikulum, pengembangan kompetensi pendidik, pengembangan kompetensi tenaga kependidikan dan pengembangan muatan profesional religius kepada peserta didik.

Pejabat eselon II pada Lembaga Administrasi Negara ini juga menyampaikan “FGD ini bertujuan untuk mengoptimalkan dan mendayagunakan teknologi informasi untuk mewujudkan sinergitas sistem pondok pesantren dan sistem sekolah untuk menghasilkan SDM yang profesional religius”.

SDM profesional religius yang merupakan tagline LDII dalam hal pembinaan kepada warga mudanya adalah SDM yang memiliki tri sukses, enam tabiat luhur dan empat pengikat keimanan. Tri sukses merupakan tiga target pembinaan generasi yang harus sukses menjadi generasi yang alim dan faham agama, berakhlak mulia dan mandiri. Sedangkan enam tabiat luhur adalah karakter yang harus dimiliki oleh setiap warga LDII yaitu rukun, kompak, kerjasama yang baik, jujur, amanah dan mujhid muzhid. Adapun empat pengikat keimanan adalah upaya agar menjadi orang yang memiliki iman dan takwa yang kuat dengan cara selalu bersyukur, mengagungkan, mempersungguh dan berdoa kepada Allah SWT.

“Dengan memiliki tri sukses, enam tabiat luhur dan empat pengikat keimaban berarti dia menjadi generasi yang profesional yaitu ahli dibidangnya dan memiliki integritas yang dijiwai dengan nilai-nilai religi”, tegasnya.

“Lembaga pendidikan yang akan menjadi sasaran adalah pondok pesantren, sekolah, pramuka, keluarga dan masjid atau mushalla. Namun untuk sistem informasinya sementara diawali dari pondok pesantren dan sekolah”, pungkasnya. (Ujo/Lines Lampung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.