Rakernas LDII Beri Solusi Masalah Bangsa

0
208

Jakarta (8/10) – LDII menggelar Rapat Kerja Nasoional pada 10-11 Oktober di Pondok Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jawa Timur. Kegiatan ini memiliki dua posisi strategis bagi LDII. Pertama, Rakernas merupakan daya hidup ormas dalam menjalankan fungsinya membangun masyarakat dan melaksanakan berbagai aturan negara dan AD/ART. Kedua, Rakernas LDII digelar tepat pada masa-masa kampanye, yang merupakan bagian dari pesta demokrasi.

“Masa kampanye, bukan hanya waktunya kandidat presiden dan wapres menyampaikan programnya, tapi rakyat juga mengemukakan aspirasinya,” ujar Ketua DPP LDII sekaligus Ketua Panitia Pengarah (SC) Rakernas LDII, Prasetyo Sunaryo. Rakyatlah yang selama ini merasakan langsung program kerja lima tahun presiden dan aparaturnya. Walhasil, rakyat sangat berhak memberi masukan sekaligus memberi solusi konkrit masalah bangsa.

Jadi, rakyat jangan lagi memahami bahwa kampanye adalah ajang monolog kandidat. Harus terdapat “diskusi” dua arah antara elit politik dan rakyat, begitu keyakinan LDII sebagaimana disampaikan Prasetyo. Lalu apa yang bisa ditawarkan ormas sebagai “wakil” paling dekat dengan rakyat? Ormas merupakan agregator (penghubung antara rakyat dan pemerintah) kapasitas individu dalam masyarakat.

Ormas menjadi agregator kerja mandiri dan inovasi masyarakat dalam menghasilkan teknologi atau sistem sosial, sehingga bisa dijadikan solusi masalah bangsa. Tanpa kehadiran ormas potensi-potensi tersebut tercecer dalam level mikro yang tak pernah menjadi solusi bangsa.

Dalam fungsinya sebagai agregator, LDII menemukan 8 bidang yang menjadi solusi yang dibutuhkan oleh masyarakat, yakni: 1. Wawasan Kebangsaan; 2. Prinsip Dakwah dan Akhlak Bangsa; 3. Pendidikan Karakter; 4. Pangan dan Lingkungan Hidup; 5. Ekonomi Syariah; 6. Pengembangan Pengobatan Herbal; 7. Pemanfaatan Teknologi Digital Produktif; 8. Pemanfaatan Energi Baru-Terbarukan.

Wawasan kebangsaan menjadi payung utama solusi masalah bangsa. Di dalamnya terdapat Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. LDII memandang wawasan kebangsaan mulai memudar di kalangan generasi penerus bangsa. Ideologi impor dari berbagai kutub ideologi, masuk ke Indonesia menggerus wawasan kebangsaan, “Tanpa wawasan kebangsaan yang kokoh, kita bisa mengingat dua negara yang bubar Uni Sovyet dan Yugoslavia, Indonesia bisa bernasib sama bila mengabaikan wawasan kebangsaan,” imbuh Prasetyo Sunaryo.

Delapan bidang tersebut telah dilakukan warga LDII, dan menjadi masukan bagi para kandidat untuk mendapatkan perhatian yang lebih, sekaligus menjadi bagian dari program kerja yang berkesinambungan di masa mendatang. Bahkan warga LDII telah menjadi pionir di bidang-bidang tersebut. Taswadi warga LDII di Melawi, Kalbar, misalnya, petani kooperator Dinas Pertanian Kalimantan Barat. Ia mampu menjadikan lahan gambut setebal 4-6 meter, menjadi lahan subur yang dapat ditanami berbagai komoditas pangan. Lalu ada Awaldi Hasibuan di Riau yang menjadi petani pelopor argowisata dan penyuluh pertanian tingkat provinsi, karena keberhasilannya berinovasi dalam pertanian.

Di bidang teknologi terbarukan, LDII telah memulai penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya di pesantren dan mikrohidro untuk pengolahan teh. LDII juga menganjurkan warganya memanfaatkan pekarangan untuk menanam tanaman herbal, sebagai alternatif pengobatan di saat harga-harga obat kian mahal. LDII berharap delapan bidang yang telah dilakukan oleh LDII juga bisa dilakukan atau dimanfaatkan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Sementara di bidang politik, LDII mengajak para elit politik di masa mendatang mendampingkan dimensi legitimasi etis dengan legitimasi kuantitatif. Legitimasi kuantitatif selama ini ditandai dengan adanya electoral threshold yang hanya menunjukkan kuantitas pemilih. Hal ini bisa dibangun bukan hanya dengan keterkenalan tokoh, namun juga politik uang.

Untuk mencegah praktik-praktik politik uang dalam membangun keterkenalan tokoh (elektabilitas), dimensi kuantitatif ini harus dibarengi dengan dengan legitimasi etis, di mana tokoh-tokoh yang muncul sebagai kandidat pemimpin, merupakan hasil seleksi dalam konvensi parpol.

Inilah yang akan memunculkan kader-kader terbaik yang dipilih oleh rakyat. Mereka dikenal sebagai tokoh yang berkualitas sehingga memperoleh suara terbanyak, di sisi lain parpol melahirkan kader terbaik mereka. Untuk melahirkan sebuah sistem yang benar-benar didedikasikan untuk membangun bangsa dan negara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.