Belajar Taat dan Ikhlas dari Sejarah Melempar Jumroh

0
81

Bandar Lampung, Minggu (10/2) – Awal mulanya melempar jumroh merupakan cara yang digunakan oleh keluarga nabi Ibrahim AS untuk melempar syetan yang berusaha untuk menggoda nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Namun dibalik itu terdapat teladan baik yang dapat diambil dan dicontoh dari nabi Ismail AS, Hajar, dan Ismail AS dalam  menjaga ketaatan serta keikhlasan dalam melaksanakan  Wahyu dari Allah SWT.  Sehingga turunlah perintah Allah untuk  melempar Jumroh  sebagai salah satu ritual yang wajib dilaksanakan bagi kaum muslim yang telah berniat untuk melaksanakan ibadah haji di Baitullah.

Yaitu dengan cara melemparkan kerikil-kerikil ke tiga jumroh, diantaranya Jumroh Ula, Wustho dan Aqobah. Kerikil yang digunakan untuk melempar jumroh didapatkan dari tanah hamparan yang terdapat di wilayah Muzdalifah.

“Kaum muslim yang hendak melempar jumroh diwajibkan untuk menyiapkan 70 buah kerikil dan menyiapkan 30 kerikil cadangan untuk mengantisipasi kalau ada kerikil yang meleset” jelas Harus Ar-Rasyid pemateri manasik Generus Sukses Mandiri (GSM) LDII Bandar Lampung.

Baca juga : Asiknya Manasik Haji dan Umroh Bareng GSM Bandar Lampung

Harun menjelaskan, selain sebagai syarat sahnya ibadah haji, ternyata melempar jumroh merupakan perbuatan yang bernilai ibadah sejak zaman nabi Ibrahim AS. Beliau melempar Jumroh sebagai bentuk perlawanan terhadap syetan yang berniat untuk menggagalkan nabi Ibrahim AS  melaksanakan Wahyu dari Allah yakni menyembelih anaknya, Ismail AS.

“Tak menyerah, ternyata selain menggoda nabi Ibrahim AS, istrinya Hajar sekaligus ibu dari nabi Ismail AS  digoda oleh syetan agar menggagalkan niat suaminya yang hendak menyembelih Ismail AS. Mengingat Hajar adalah salah satu istri yang pernah mengalami kemandulan sehingga atas mukjizat Allah, Hajar dikaruniai seorang anak bernama Ismail AS. Hajar adalah istri yang taat kepada Allah sehingga ia melempar syetan dengan kerikil sebanyak 7x untuk melawan syetan”, papar Harun.

“Tak juga menyerah, syetan kembali kepada Ismail AS agar pelaksanaan penyembelihan digagalkan, namun karena ketaatan Ismail AS ia berhasil untuk melawan syetan dengan melempar 7 kerikil juga. Akhirnya nabi Ibrahim AS dapat melaksanakan Wahyu dari Allah SWT dengan rasa ikhlas. Berkat ketaatan serta keikhlasan nabi Ibrahim AS serta istrinya Hajar juga anaknya, Allah mengganti Ismail AS dengan seekor domba sehingga bersama dengan itu turunlah Wahyu Allah perintah untuk menyembelih hewan Qurban”, lanjut Harun.

Dari penjelasan di atas  dapat kita ambil hikmah bahwa syetan adalah musuh bagi manusia. Sebagai pemuda milenial, berpegang teguh terhadap peraturan-peraturan, hukum-hukum yang ada di dalam Al Qur’an dan Al Hadits ditengah modernisasi zaman seperti ini diibaratkan seperti menggenggam bara api.  Sebagaimana dalil di bawah ini:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Panas sekali, tapi harus kuat. Kita perlu belajar dari ketaatan serta keikhlasan nabi Ibrahim AS dan keluarganya dalam menjalankan perintah Allah SWT.

‘Menggenggam bara api’ diiartikan  sebagai rasa berat bagi pemuda akhir zaman  ditengah canggihnya teknologi serta maraknya pergaulan bebas tanpa batas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom akan tetapi ia terus berusaha, bertahan untuk menjaga agamanya, berusaha menghindari perbuatan maksiat yang dibenci Allah, serta senantiasa berpegang teguh terhadap tali agamanya Allah.

Sehingga pada akhirnya nanti Allah akan memberikan Surga bagi hambanya yang Taqwa. Surga adalah kenikmatan yang kekal dan abadi selama-lamanya. Dan tidak ada pembalasan terbaik bagi orang-orang yang bertaqwa kecuali Surga yang di dalamnya terdapat rumah yang diukir dengan emas dan perak yang mulia. Karena Surga adalah pembalasan yang mulia bagi orang yang bertaqwa. (Yustika Zulfaniyalin/LINES Lampung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.