Home / Artikel Umum / Menghormati Privasi dalam Pergaulan

Menghormati Privasi dalam Pergaulan

Dalam pergaulan sehari-hari dengan orang-orang yang sudah akrab dengan kita (keluarga, sahabat, dan teman dekat lainnya), biasanya kita  sering menganggap remeh batasan-batasan yang ada dalam pergaulan. Diluar niat baik ataupun buruk, sering kali kita tidak sadar telah melanggar batasan-batasan yang ada.

Hal-hal yang biasanya sering dilakukan adalah melanggar privasi. Sepele memang, tapi mungkin kita tidak sadar telah melakukannya karena menganggap itu adalah hal yang biasa, dan bukan masalah besar karena sudah akrab.

عن محمد بن كعب القرظي حدثني عبد الله : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ” لا تستروا الجدر من نظر في كتاب أخيه بغير إذنه فإنما ينظر في النار سلوا الله [ عزوجل ] ببطون أكفكم ولا تسألوه بظهورها فإذا فرغتم فامسحوا بها وجوهكم ”

Dari Muhammad bin Ka’ab al Qurazhi, Abdullah bercerita kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menutupi tembok. Siapa saja yang melihat buku kawannya tanpa seizinnya maka sebenarnya dia hanyalah memandang api neraka. Berdoalah meminta kepada Allah dengan menggunakan bagian dalam telapak tangan kalian dan janganlah kalian menggunakan bagian luar telapak tangan. Jika kalian selesai berdoa maka usapkanlah tangan kalian ke wajah(HR Abu Daud no 1485)

Hadits diatas biasanya dijadikan acuan utuk sikap dalam berdoa. Tetapi sebenarnya, ada pesan lain juga yang dapat kita petik dari dalam hadits tersebut “… Siapa saja yang melihat buku kawannya tanpa seizinnya maka sebenarnya dia hanyalah memandang api neraka. …”. Maksudnya, kita haruslah menjaga privasi orang-orang terdekat kita, seakrab apapun dengan mereka, demi menjaga kebaikan dan keharmonisan hubungan, lebih baik dan lebih dianjurkan untuk selalu minta izin kepada mereka untuk melihat, membuka, atau menggunakan seluruh hal yang berkaitan dengan privasi mereka.

Adapun jika kita tidak meminta izin, maka samahalnya kita telah memandang api neraka, bisa disebut berdosa, karena si pemilik privasi tidak ridho. Contoh dari kasus ini cukup banyak, membuka buku/jurnal harian pribadi, menggunakan komputer/laptop/tablet pribadi dengan tanpa izin, membuka lemari, mengotak-atik akun social media, dan lain sebagainya.

Bukan tidak mungkin sahabat kita pernah sakit hati atau sebenarnya tidak terima dengan perilaku kita yang lancang, meskipun kelihatannya dia tidak marah atau menegur kita. Oleh karena itu, ada baiknya kita menjaga hubungan dengan sahabat dan orang terdekat lainnya dengan memperbaiki perilaku kita dalam bergaul.

Powered by themekiller.com