Home / Artikel Umum / Istikhoroh, Ketika Ingin Memilih atau Telah Mantap Pada Pilihan?
Istikhoroh, Ketika Ingin Memilih atau Telah Mantap Pada Pilihan?
Istikhoroh, Ketika Ingin Memilih atau Telah Mantap Pada Pilihan?

Istikhoroh, Ketika Ingin Memilih atau Telah Mantap Pada Pilihan?

Ajaran Islam sudah sangat tertata rapi dan sangat sempurna dengan segala ajaran-ajaran yang terlah dibawakan oleh Nabi Muhammad Saw yakni salah satunya dengan sholat istikhoroh. Seorang muslim yang memiliki hajad tertentu dianjurkan untuk melaksanakan sholat dan doa istikhoroh. Hajad bisa berupa memilih pendidikan, memilih suatu pekerjaan, tempat tinggal baru atau bisa juga dalam hal menentukan calon istri atau suami.

Istikhoroh bisa dilakukan untuk membuat putusan yang sulit maupun yang mudah, putusan yang berat maupun yang ringan, pilihan yang meragukan maupun yang sudah mantap. Ada hal yang perlu kita perhatikan bahwa sebelum mengerjakan istikhoroh hatinya supaya dinetralkan dari perkara yang dipilih jangan memihak yang satu dan membenci yang lain. Hal ini perlu dilakukan agar pilihan yang muncul bukan pilihan kita sendiri yang akhirnya akan menimbulkan kekecewaan.

Jika seseorang telah mantap dengan suatu urusan, maka ia memohon kepada Allah apabila urusannya tersebut baik dan diridhoi oleh Allah, maka Allah akan mempermudah jalannya untuk mendapatkan perkara tersebut.

Nah, jika perkara tersebut tidaklah baik baginya, Allah akan datangkan penghalang dan pencegah baginya, sehingga ia akan dicegah untuk melaksanakan urusan tersebut. Dan doa istikhoroh itu sendiri bertujuan untuk meminta pada Allah pentunjuk, kemudahan dan kebarokahan atas suatu perkara.

Adapun waktu pelaksanaannya boleh siang atau malam hari. Akan tetapi waktu yang paling baik adalah sepertiga malam yang terakhir. Prakteknya sholatlah dua rakaat, kemudian berdoalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِي، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

Artinya: “Ya Allah saya mohon pilihan dengan ilmumu, dan saya mohon ketetapan dengan qodarmu, dan saya minta keistimewaanMu yang agung,

Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedang saya tidak kuasa,

Dan Engkau Maha Mengatahui sedangkan saya tidak mengetahui

Dan Engkau mengetahui hal-hal yang ghaib,

Ya Allah seandainya Engkau mengetahui perkaraku ini (menyebutkan perkara yang dimaksud secara spesifik) baik untukku dalam agamaku, dan kehidupankudan akibat-akibat dari pilihanku ini maka qodarlah perkara ini untukku

Dan jika engkau tahu sesungguhnya perkaraku ini (menyebutkan perkara yang dimaksud secara spesifik) jelek bagiku dalam agamaku dan kehidupanku dan akibat-akibat perkaraku ini maka jauhkanlah perkara ini dariku dan jauhkan aku dari perkara ini,

Dan qodarlah untukku sekiranya baik bagiku dan ridhoilah saya dengan pilihanMu itu”. (Hadist Shohih Bukhari No. 6382 Kitabu Da’wat).

Suatu pilihan yang saat ini menurut logika bermanfaat dan menyenangkan hati belum tentu baik bagi kehidupan seseorang di kemudian hari. Tentu saja pilihan itu tidak boleh berupa perkara yang melanggar aturan Allah dan Rasul atau hajad yang jelas-jelas mendatangkan mudhorot.

Gambar ilustrasi: hanyatauaja/@U-Report

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Powered by themekiller.com