Ini 3 Hal Penting dalam Menulis Berita

0
125

Bandar Lampung – Bagi sebagian generasi muda saat ini, mendengarkan ceramah di masjid, mengikuti kegiatan risma, atau pengajian -pengajian lainya menjadi kegiatan yang mebosankan. Mereka lebih tertarik dengan ceramah yang tersebar di berbagai platform media sosial youtube, instagram, Facebook dan lainya. Oleh karena itu, Untuk mendukung Lembaga Dakwah Islam  Indonesia (LDII) menyipakan kader Pendakwah di media sosial, Lines atau LDII News Network DPW LDII Provinsi Lampung menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Jurnalistik.

Kegiatan dengan tema “Muda Berkarya dalam Dakwah Bermedia” tersebut  dilaksanakan pada hari Minggu, 8 Juli 2018, di Aula GSG Masjid Hizbullah, Labuhan Dalam, Bandar Lampung.

Ketua DPW LDII Provinsi Lampung dr. M. Aditya, M.Biomed menyampaikan agar dakwah bisa di terima oleh masyarakat, harus bisa menyesuaikan dengan zaman.

“Para pendakwah harus bisa menyesuaikan dengan zaman, artinya materi – materi dakwah yang disampaikan sesuai dengan realita saat itu. Kita bisa belajar dari berbagai perusahan besar di dunia yang akhirnya kalah saing dengan perusahaan lain  karena kurang inovasi, kalau bahasa anak zaman sekarang jangan hanya di zona nyaman, di butuhkan inovasi agar dakwah kita bisa di terima khalayak, salah satunya dakwah melalui media internet”, ungkap Aditya.

“Mayoritas masyarakat indonesia kehidupanya sudah sangat dekat dengan internet, apalagi generasi milenial, sehingga dakwah di media internet menjadi inovasi dalam bidang dakwah”, tambah Aditya.

Dalam kesempatan ini pula Adian Saputra yang juga sebagai Pimpinan Reaksi portal berita online Jejamo.com memaparkan, ada 3 nilai penting dalam menulis sebuah berita yaitu baru, penting, dan menarik.

“Bahan tulisan bisa didapat dari tiga hal ini yaitu, Menemukan  sesuatu yang baru, Menemukan sesuatu yang penting, dan  seandainya bukan sesuatu yang baru, dan  penting, tetapi menarik, silahkan tulis”, ungkap Pemred Jejamo.com.

“Selain itu  seorang jurnalis harus memiliki disiplin verifikasi dan sikap skeptis (adanya keragu-raguan). “Kalau ada ragu, harus di cek dulu. Jangan jadi jurnalis yang asal tulis, semua harus diverifikasi dulu. Berita harus jelas, liat buktinya, jangan mudah percaya, ujilah dapat dari siapa”, tutur Adian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.