Home / Dakwah Islam / Hukum Berhubungan Intim Ketika Istri sedang Haid
berhubungan intim istri haid
berhubungan intim istri haid

Hukum Berhubungan Intim Ketika Istri sedang Haid

Hukum Berhubungan Intim Ketika sedang Haid – Seorang wanita yang masih subur akan mengalami sebuah istilah yang disebut dengan menstruasi atau sering disebut dengan Haid. Haid merupakan suatu proses biologis reproduksi seorang wanita yang terjadi secara berkala. Wanita yang sudah mengalami haid maka dia dikatakan sebagai Wanita Baligh. Sehingga harus menutup aurat nya serta wajib menjalankan kewajiban – kewajiban ibadahnya karena pada dengan masa baligh semua amalan baik dosa atau pahala ditanggung diri sendiri.

Ketika seorang wanita sudah berumah tangga tentu berbeda dengan seorang wanita yang masih gadis. Dimana ketika telah menjadi seorang istri ia memiliki sebuah kewajiban untuk melayani suami mereka dalam beramal sholih (Jima’). Seorang istri tidak boleh menolak ajakan suami nya kecuali dalam kondisi tertentu.

“Jika seorang laki-laki mengajak istrinya untuk menyalurkan hajatnya (kebutuhan biologisnya), maka hendaklah ia mendatangi suaminya, meskipun dia sedang berada di tungku perapian” H.R at-Tirmidzi

Kondisi yang dimaksudkan adalah ketika dirinya sedang Haid atau Nifaz. Suami – Istri diharamkan melakukan hubungan Intim ketika Sang Istri sedang mengalami kedua hal tersebut. Hukum larangan ini telah Allah SWT firmankan dalam Al-Quran :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ 

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222) 

Sehingga diantara Suami dan Istri harus memahami terhadap hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam Agama Islam. Supaya tidak terjadi kesalahan atau permasalahan Suami dan Istri dalam berumah tangga atas masalah yang satu ini.

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haidh atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

“Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus dalam Dosa Besar.”

Dalam hal ini Suami dan Istri tetap boleh bercumbu namun harus menghindari bagian Haid & Anal seorang Istri. Ada sebuah Hadis yang menerangkan bahwa ketika Rosulullah SAW ingin bercumbu dengan salah satu istri nya yang sedang haid, maka Nabi menyuruhnya untuk menutupi tempat keluarnya haid dengan kain. [Tidak men-jima’] 

Powered by themekiller.com