Home / Berita LDII Lampung / Hikmah Temu Penegak Pandega Nasional

Hikmah Temu Penegak Pandega Nasional

Satuan Komunitas Pramuka Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) adalah komunitas pramuka yang dibentuk oleh LDII dengan kegiatan berbasis masjid, musala, majelis taklim, dan pondok pesantren. Langkah ini dilakukan oleh LDII untuk membina dan membentuk karakter kaum muda.

Sako SPN merupakan pelengkap dari berbagai kegiatan yang LDII dalam pembentukan karakter melalui aspek kognisi (pengetahuan) dan psikomotor (keterampilan). Kegiatan kepramukaan ini digadang-gadang menjadi pelengkap dalam =aspek afeksi (sikap dan prilaku). Sako SPN menempatkan diri sebagai “Pramuka bil Hikmah”, artinya setiap kegiatan kepramukaan yang diselenggarakan harus mengandung hikmah yang dapat dipetik oleh siapapun yang terlibat didalamnya. Sebagai contoh pada penyelenggaraan Temu Penegak dan Pandega Nasional (TPPN) yang diselenggarakan pada 25-27 Agustus 2017 di Sawangan Depok.

Dalam perhelatan ini banyak hikmah yang dipetik, antara lain:

  1. Sejak kedatangan di bumi perkemahan para peserta berjalan menuju ke tapak kemah. Kendaraan diatur agar tidak sampai masuk lokasi. Hal ini untuk melatih kerukunan, kekompakkan, dan kerja sama antar peserta. Dipimpin oleh pimpinan Umpi masing-masing, peserta dibagi tugas mengangkut logistik dan perlengkapan, membersihkan tapak kemah, membangun tenda, dapur, menyalakan api, memasak dan lain-lain. Semua berjalan dengan rukun, kompak dan bisa bekerja sama dengan tetap bergembira, apalagi sambil bernyanyi lagu “Apa Guna Keluh Kesah”. Terlaksanalah pepatah “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, holobis kuntul baris, seiyek sa eko proyo“.
  2. Peserta diberi jadwal kegiatan yang disepakati bersama dan harus komitmen dengan jadwal yang padat tersebut. Hal ini melatih komitmen peserta untuk menepati kesepakatan bersama, sehingga tumbuh jiwa disiplin dan mampu mengendalikan waktu dan mengelola diri.
  3. Mekanisme penyampaian informasi secara bertahap dari panitia kepada pimpinan kelurahan, pimpinan umpi hingga ke anggota masing-masing. Cara seperti ini untuk melatih tabiat amanah dan cara berkomunikasi yang baik sekaligus mengenalkan sistem “penerobosan” yang biasa terjadi dalam komunitas LDII.
  4. Fasilitas yang terbatas, antrian kamar mandi dan hiruk pikuknya keterbatasan air karena gangguan teknis menjadi bumbu cerita dan momen yang tak terlupakan, menambah semakin serunya perkemahan. Sejatinya kondisi ini melatih sikap sabar, mujhid muzhid, dan keporo ngalah. Keterbatasan tidak boleh menjadi penghalang untuk mencapai tahapan berikutnya.
  5. Latihan baris berbaris di hari pertama menjadi menu awal bagi peserta. Dari kegiatan kolosal Peraturan Baris Berbaris (PBB) memiliki banyak hikmah yang bisa dipetik, karena di dalamnya terdapat latihan kedisiplinan, konsentrasi, kekompakan, kesigapan, harmonisasi gerakan, ketaatan kepada pimpinan dan pemberian intruksi yang jelas dan dapat dipahami anggota.
  6. Latihan mengurus jenazah, bukan sekadar memenuhi tuntutan dalam buku Syarat Kecakapan Umum (SKU), melainkan melatih dan menumbuhkan semangat ibadah dan kepedulian sosial yang disertai sikap empati.
  7. Latihan nasihat dan diskusi panel, bukan sekedar melatih tata cara berkomunikasi dan mengemukakan pendapat secara verbal, tetapi hakikatnya melatih Pramuka untuk mencari dasar pijakan atau dalil atas nasihat dan argumennya, melatih untuk saling peduli, saling nasihat, bisa nasihat dan bisa dinasehati. Jika pengetahuan diperoleh dari menuntut ilmu, maka kepahaman diperoleh dari mendengarkan nasihat.
  8. Kemasan kecakapan tabiat luhur terlihat pula pada kegiatan rotasi pemadaman api (fire fighting). Mana mungkin umpi berhasil memadamkan api jika tidak amanah, tidak rukun, tidak kompak apalagi tidak bisa bekerja sama dengan baik. Belajar syukur atas ikhtiar hidup sehat dan harus bertindak tepat cepat dalam penanganan gawat darurat. Bukan hanya tahu penyebab kecelakaan, tetapi saat gawat darurat Pramuka harus tampil bertindak benar dan cepat dalam menolong sesama.
  9. Ekosistem pesisir mengingatkan pentingnya memahami qodar dilahirkan sebagai orang iman di Indonesia, sebuah negara maritim yang kaya sumber daya alam. Pramuka harus cakap mengakses pesisir laut sebagai sarana ibadah. Dasa Dharma Pramuka menuntut Pramuka harus cinta alam, hal ini juga terkait tabiat orang iman yang harus menjaga dan memelihara kelestarian alam.
  10. Bersepeda, latihan memanah, mengenal mobil 4×4 dan scuba diving merupakan perwujudan jiwa petualang yang mengantar Pramuka supaya tidak minder dan siap berpetualang kemana pun. Konteksnya adalah siap menjalankan tugas muballigh dan tugas sabilillah lainnya sak polkemampuan. Pramuka siap karena memiliki kecapakan yang lengkap, namun tetap bersahaja dan siap berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.
  11. Peduli lingkungan dan jiwa wira usaha dikemas dalam kegiatan mengelola sampah bokasi. Dari hal yang mulanya dipandang tidak berharga justru menjadi bermanfaat bahkan menyelamatkan lingkungan. Bokasi dapat dijadikan sebagai sumber maisyah. Memberikan sebuah pemahaman bahwa pintu rezeki itu luas, kita dapat mendapatkannya di manapun selagi kita mau. Sekaligus menanamkan carilah maisyah yang tidak mengganggu ibadah bahkan maisyah untuk sangu ibadah.
  12. Tak lupa pula ada kegiata beauty every day bagi peserta putri. Melatih tampil cantik setiap hari tanpa harus selalu berkosmetik dan berpakaian mahal. Tapi cantik itu juga bisa lahir dari dalam diri (inner bauty). Pramuka putri yang shalehah adalah pramuka cantik yang rajin, cantik yang cerdas, cantik yang disiplin, cantik yang bersih, cantik yang santun, cantik yang budi luhur, cantik yang semangat, cantik yang pintar masak, dan cantik yang rendah hati. Bukan cantik tapi malas, cantik tapi jorok, cantik tapi mbules, cantik tapi suka ngambek (baper) dan cantik tapi tinggi hati (somse).
  13. Penampilan kesenian daerah dan kuliner Nusantara adalah upaya membentuk Pramuka yang memiliki jiwa cinta tanah air, menghormati keragaman dan mengembangkan kearifan lokal menjadi penguat keutuhan dan kejayaan NKRI. Keterampilan memasak juga melatih pramuka berjiwa mandiri, mujhid-muzhid dan bangga dengan hasil karyanya sendiri.

Semua kegiatan memang dirancang menerampilkan materi ilmu Alquran dan Alhadist, Tri Sukses dan enam tabiat luhur dalam kehidupan sebenarnya. Di sinilah titik tekan Sako SPN, yang tentu menjadi nilai tambah sekaligus pembeda dengan pramuka pada umumnya. Sako SPN…. Jaya!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Powered by themekiller.com