Hikmah Dibalik Puasa Ramadhan

1
100

1. Mencapai derajat takwa.

Betapa beruntungnya kita masih bertemu bulan ramadhan ini. Begitu sayangnya Allah pada kita sehingga meninggikan derajat kita melalui ketakwaan yang Allah telah perintahkan.

Allah telah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al Baqarah ayat 183)

2. Melatih diri meninggalkan kesenangan dan syahwat dunia.

‎يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

Artinya : “Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”. ( H.R. Muslim).

Bulan ramadhan adalah sarana yang tepat untuk melatih pengendalian diri. Belajar meninggalkan kesenangan dan syahwat dunia. Menghindarkan diri kita dari sesuatu yang melupakan kita pada Allah.

Jangan sampai rasa senang terhadap dunia terus menerus nyaman berada dalam diri kita.

Allah selalu melihat tiap usaha kita. Semoga kita semua menjadi seseorang yang hatinya selalu ke Allah.

3. Menjadi pribadi yang lebih baik.

Kadangkala kita mungkin pernah merasa sangat berat melakukan ibadah. Ibadah yang dahulu sangat semangat dan konsisten lalu makin ke sini makin melemah. Lalu di bulan inilah kita mulai perbaiki lagi sampai usaha maksimal yang kita mampu.

Hendaknya kita bisa menjadikan bulan ini sebagai upaya pengendalian diri menuju ke arah yang lebih baik.

‎لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Artinya : “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” ( H.R. Ibnu Khuzaimah).

Hikmah dari hadits diatas bahwa perkataan sia-sia yang tidak berfaedah (tidak bermanfaat) serta perkataan yang sifatnya rofats (porno) akan menjadikan puasa kita sia-sia.

Oleh karena itu, sedikit demi sedikit belajarlah untuk menghindarinya. Lewat puasa inilah, kita bisa menerapkan apa yang telah nabi contohkan.

Semoga Allah memberikan pertolongan pada kita untuk terus memperbaiki diri ya.

4. Peduli Sosial

‎مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya : “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (H.R. ATirmidzi).

Sebagaimana telah nabi sabdakan tentang memberi makan pada orang yang berbuka puasa. Hal ini sangat dianjurkan karena pahalanya sangat besar sebesar pahala orang yang berpuasa.

Hal ini merupakan ladang pahala untuk kita. Betapa beruntungnya seseorang yang memberi makan pada orang yang berpuasa akan dibalas dengan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut. Juga keutamaan lain seperti, ketika seseorang yang berpuasa tersebut mendoakan pada orang yang memberi makan, maka doanya sangat mustajab.

Dalam hadis nabi mensabdakan, ada 3 orang yang doanya tidak ditolak, yaitu pemimpin yang adil, orang yang berpuasa, dan orang yang terzalimi.

Islam selalu mencontohkan kepedulian sosial. Begitulah islam mengajarkan sikap menyayangi sesama.

Semoga tiap amalan yang kita lakukan selalu Allah ridhoi. Semoga keimanan kita tetap continue seusai ramadhan berlalu, ya!

Penulis : Dian Palupi – LINES Lampung

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.