Home / Berita Umum LDII / FGD LDII : Hadapi MEA dengan Koperasi
Masyarakat Eknomi ASEAN LDII
Masyarakat Eknomi ASEAN LDII

FGD LDII : Hadapi MEA dengan Koperasi

Ldiilampung.com – Kemitraan UMKM antarnegara se-Asia Tenggara dirasa perlu ketimbang persaingan. Apalagi jika Koperasi menjadi lokomotif bagi UMKM sebelum kemitraan antar negara itu dibentuk.

Meski UMKM di Indonesia terus menggeliat, namun kisah Koperasi Indonesia yang justru sulit berkembang. Ina Primiana, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran yang menjadi pembicara pada Focus Group Discussion dengan tema “Membangun Kemitraan Koperasi dan UMKM di Era MEA 2015” pada Selasa (28/4) di gedung DPP LDII mengatakan, Indonesia belum memiliki contoh koperasi yang berhasil di sektor manapun.

“Padahal selain MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang sudah didepan mata, juga ada RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) pada 2016 mendatang,” ujarnya. RCEP dinilai dapat menciptakan Free Trade Arrangement modern dan komprehensif. Sayangnya, SDM lemah serta kebijakan dan permodalan terbatas belum bisa menjawab persoalan koperasi. Ina juga memaparkan potret kelemahan UMKM dimana memiliki daya saing yang rendah dari segi kualitas produk, harga dan kesinambungan pasar. Contoh, produk lokal yang bersaing dengan produk impor, pengemasannya cenderung kurang menarik, namun harga mahal sehingga pasar dikuasai produk impor. Ina menganggap, daya saing adalah pasar yang menarik. Namun hal itu disanggah oleh Ardito Bhinadi dari Departemen

Hal ini juga disebabkan, ketidaktahuan bagaimana mengelola dan memasarkan produk yang akan dijual, permodalan, penggunaan teknologi serta hak paten atau merek dagang, menurut Yuszak M. Yahya, ketua grup “One in 20 Movement.” Sedangkan menurut Eman Sukirman, SE. MSi, wakil ketua komite tetap Pengembangan Mitra Dagang dan Sosialisasi yang juga menjadi pembicara mengatakan, Indonesia perlu belajar ke negara seperti Thailand yang menjual produknya sebagian besar di dalam negeri dan sisanya ekspor, serta proaktif meningkatkan efisiensi usaha, membuat jaringan dan mengetahui kebutuhan pasar.

Meski demikian, kenyataannya, UMKM tetap dinilai dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi asalkan memberlakukan sistem pendampingan bagi para pelaku usaha. Sehingga pelaku usaha tidak hanya berhasil membuat usaha namun juga dapat mengembangkan market pasar. Yuszak sempat berbagi cerita tentang kegiatan yang dilakukan “One in 20 Movement” seperti, bagaimana membuat produk yang dibutuhkan pasar dengan terlebih dahulu mencetak pelatih bisnis bagi pelaku usaha.

Peluang peningkatan kapasitas UMKM inilah yang membutuhkan kemitraan dengan Koperasi. Koperasi dapat menjadi wadah marketing bagi UMKM atau Empowered Institution yang mendorong kegiatan UMKM. Staf Ahli Kementerian Koperasi dan UMKM RI, Dr. Ir. Muhammad Taufiq, MSc menambahkan, “Upaya kemitraan dapat meminimalisir ketidakpastian dalam usaha dengan pengoptimalisasian sinergitas keanekaragaman budaya dan hayati.”

Selain itu, agar tumbuh dan berkembang, Ina mengatakan, penekanan pada fungsi Koperasi tidak hanya UMKM. Dengan keterbatasan yang dimiliki, UMKM sejenis lebih baik membentuk Koperasi sehingga bertindak sebagai manajer UMKM. Dengan adanya kerjasama internal Koperasi dan UMKM ini Indonesia dapat memiliki daya saing yang mumpuni sekaligus bermitra dengan pelaku usaha negara lain.

Peningkatan Ekspor Produk Indonesia

Sementara itu menurut Ari Satria, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan yang ditemui di Graha Manggala Siliwangi, Bandung dalam seminar “Sosialisasi Pasar Perdagangan Luar Negeri 2015” untuk Art and Craft Expo jelang acara Konferensi Asia Afrika minggu lalu mengatakan, kemitraan dibutuhkan tergantung dari produk yang dijual dan situasi pasar.

“Yang saya katakan adalah produsen melihat peluang pasar dari keinginan konsumen,” ujar Ari. Produk itu akan menjadi yang paling dicari, apalagi jika diminati hingga konsumen mancanegara. Ekspor meningkat, jika pemerintah dan pengusaha jeli membidik negara mana yang dapat dijadikan ekspansi seperti industri Afrika yang belum berkembang karena kebutuhan akan impor masih tinggi.

Para produsen juga perlu membangun brand bukan hanya produk. “Belum membangun brand, maka belum menembus pasar,” ujar Poppy, perwakilan Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) Bandung yang turut hadir sebagai pembicara. Poppy mengatakan, untuk membangun brand, Kemendag sudah memiliki beberapa ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) di beberapa kota mancanegara seperti Los Angeles, Johannesburg, Dubai, Chicago, Hamburg dan lainnya. Di unit kerja ini, ITPC memamerkan produk-produk Indonesia selain menjaga kualitas dan memahami perilaku konsumen. (Noni/LINES)

Powered by themekiller.com